Seorang Pemuda yang harus(nya) lahir dengan tidak sia-sia

Latest

Senandung Dendam

(Dalam Nada)

Kebencian membangunkan dalam rasa.
Ingin mengoyak siapa dan apa
Kebencian sesungguhnya adalah senjata
Bagi mereka yg muak tersiksa.

#
Duhai dinda maafkan hamba
Ketika benci larutkan cinta
Duhai bunda restui ananda
Biaskan semua cerca

Akan tiba saat kau yg disana
Tunaikan semua yg pernah kau bawa
Jilati kejamnya karma
Yg kuramu dan kulemparkan padamu.

*
Indahnya dunia
Ketika kau merana
Tertawa gembira
Iringi aliran darahmu…..

Benci Adalah Senjata

Mohon maaf kepada dirinya yang punya arti. Saat semua terurai telah dimulai hari yang baru, 21 menit yang lalu. Setidaknya bercak luapan kebencian ini tidak sampai merusak memori, ketika rindu berhasil diobati. Bulan memang hanya memancar manja malam ini, tapi gundah dalam diri tak pelak harus didengarkan dan disuarakan.

Apa yang akan tersurat adalah renungan tentang kebencian, ini dari dalam, sungguh harus dikeluarkan, daripada berujung kepada kematian. Ada yang lantang bilang, kebencian merupakan pedang bermata dua. Bisa membuat luka kepada barang siapa yang berkuasa atasnya. Yang menggunakan sebagai senjata.

Tapi Wahai kalian yang selalu berpura, sadarlah kebencian yang kalian genggam hanya akan menimbulkan luka. Luka di tangan yang menggenggamnya, yang menggunakan sebagai senjata. Tapi jika kau cukup cekatan melesakkan ke tubuh yang ingin kau siksa, catat ini, ‘LUKA ITU HANYA MEDALI KESUKSESAN”.Tangan yang menggenggam hanya tergores oleh dendam, sedangkan mereka yang pantas merasakan, selangkah lebih dekat dengan kematian.

Ini tidak berlebihan, ini luapan perasaan.

Depok, 06 September 2011

Kesimpulan

Ketika dihadapkan kepada dua pilihan, pemuda seolah mantab telah mendengar apa yang disuarakan oleh hatinya. Tak ada yang bisa menghalangi merebut apa yang dia inginkan, tak mau digoyahkan, apalagi sampai harus dipatahkan oleh bising nyanyian keraguan.

Pembelajaran, kata itu yang mengiringi jejak pikiran terperas. Keikhlasan, itu yang selalu membantunya terjaga ketika kelam mengajak terpejam. Pertanyaan justru datang ketika semakin banyak jawaban yang datang. Ragu terus menumpuk ke dalam dan seolah diamini oleh geliat keluhan.

Semakin hari berganti pemuda kembali mengajak hati berdiskusi, “apa benar wahai diri, atas apa yang dulu pernah kau suara kan, ketika dulu aku menjatuhkan jalan elegi ke wadah ini?”. Atas apa yang terjadi di sepanjang hari berganti, suara tak jua kembali.

Bertarung untuk menegakkan kesabaran memang sudah sepantasnya diberi kekalahan. Jangan sampai energi terbuang, ketika memang harapan terlihat masih begitu panjang. Langkah ini tak mau terbelenggu atas keyakinan yang salah.

Semakin panjang pertarungan akan waktu tak mungkin dapat dimenangkan, yang ada hanya bisa mengatur bagaimana kita memilah dan memilih apa dan siapa yang mau di bunuh dan bagaimana membunuh dalam perjalanannya. Dulu Dia tak mau mendengar, seolah sudah pintar.

Selamat tinggal wadah yang salah, Dia tidak bisa lagi mengikuti bentukmu. Terlalu nista jika harus menyia-nyiakan apa yang ada. Jangan pula berharap akan ucapan selamat tinggal yang terlampau syahdu, Dia bukan pemuda yang seperti itu.

Untuk Puan

“Mari merajut apa yang sudah terhanyut”

“….Jauh perjalanan
Mencari intan pujaan
Aduhai, dimana puan
Mengapa pergi tanpa pamitan

Lembah ku turuni
Bukit yang tinggi ku daki
Aduhai, tak kunjung jumpa
Mengapa hilang tak tentu rimba

Laut hempaskanku padanya
Bintang tunjukkan arah
Ooh angin bisikkanlah mana dia

Hati cemas bimbang harapan timbul tenggelam
Aduhai, permata hati
Mungkinkah kelak berjumpa lagi…”

-Sore, “Pergi Tanpa Pesan”.

Prajurit

Kami bukan berada dalam arena perang, tetapi tidak pula dapat dikatakan berada dalam kedamaian. Fisik memang tak beradu melainkan pemikiran yang berjibaku. Kiranya tak perlu lagi memeluk rasa malu, apalagi masih merasa kaku. Lebih baik kita tanggalkan saja semua itu, jangan tunggu sampai semua berubah jadi abu.

Seketika itu si pemuda masuk barisan, walau diri masih bimbang menentukan posisi, berdampingan dengan para menteri. Sungguh gambaran besar menjadi mungil ketika kami semua dikekang oleh orientasi pada hasil akhir. Sungguh para menteri seperti sudah terbiasa larut di dalam keadaan ini, tak surut mereka punya nyali untuk beradu sakti.

Prajurit yang sanksi akan posisi memberanikan diri mengungkap nyali. Tidak perlu merasa terhalangi oleh ragu dan malu apabila dirinya mengharapkan akselerasi disposisi, menembus hierarki. Serap semua, jangan dulu banyak bertanya, lakukan apa yang bisa dilakukan oleh dirinya. Harap Sang Raja ada kerelaan menangkap tajam pandangannya.

 

Ini Bukan “Indah pada Waktunya”

Hari ini nampak serupa seperti hari-hari kemarin, mengejar materi dimulai sejak pagi. Kantuk sudah menjadi hal yang terbiasa untuk ditanggulangi, apalagi sekedar menghadapi iringan kendaraan yang entah kenapa tidak lagi bisa berlari. Semua berjalan seperti hari sibuk lainnya. Keluh hanya bisa digumamkan dalam hati, diri ini terlalu terbelenggu harga diri jika perangai cengeng itu harus diaumkan oleh harimau diri.

Pencariaan materi untuk beberapa minggu yang lalu dialamatkan pada sebuah lembaga konsultasi perebut kekuasaan. Lingkungan dan manusia di dalamnya cukup bersahabat. Senda gurau selalu berlari beriringan dengan gesitnya waktu yang melahap kesibukan. Tapi ketika dia bertanya kembali ke dalam hati, “apakah ini yang engkau kehendaki, engkau suarakan setiap waktu, engkau harapkan untuk menjadi jalur pencapaian kesuksesan?”. Jawabannya selalu terdengar jelas benderang, “bukan ini yang kukehendaki”.  Read the rest of this page »

Enggan Menipu Diri

Mari merajut keramaian di dalam hati yang larut dalam kesendirian. Berpeluh bukan karena lelah merengkuh, tapi jatuh dalam jurang individu angkuh. Kalau yang mulia sedia menempuh, mungkin ini diri takkan mengeluh. Tapi apa daya sudah terlanjur duduk bersimpuh.

Kenapa mau sendiri anak muda, bukankah dengan kesendirian akan menimangmu dalam kesedihan. jangan kau terlalu mengambil batu dari hidupku hai orang tua. Lancarkan saja kesendirian ini dengan pondasi-pondasi perebut materi. Maka takkan segan aku berpura menikmati indahnya sendiri.

Read the rest of this page »